Si Burung Kecil

Bagai burung  dalam sangkar yang hanya bisa menatap lingkungan dalam diam. Berkicau di saat harus berkicau, seakan penuh riang di hatinya. Namun menyendiri dalam diam saat malam menjelang, seperti tak ada siapapun yang ingin menemaninya.
Ia butuh teman sebagai pengantar hari. Sebagai kawan dalam menari dan bernyanyi. Dan ia butuh cinta sebagai sandaran hati. Mungkin air mata tak jatuh dari kedua bola matanya. Karena lelah ada di setiap ia menangisi apa yang tak dapat ia temui. Teman yang ia impikan tak kunjung menampakkan wajahnya hingga kini. Sedang cinta yang ada harus berbatas jarak dan waktu yang berbeda.
Burung kecil yang tampak bahagia dalam sangkar emasnya, menyimpan sejuta rasa sedih yang tak terduga. Tak ada yang mampu menggali rasa itu. Hanya ia dan Tuhannya yang menjaga perasaan itu sedemikian rupa.
Kini ia merindukan alam hijau yang terbentang luas. Sungguhpun tak ada yang dapat menemani kesendiriannya, tapi keasrian alam mampu mengobati berapapun gundah dalam hatinya. Kemegahan gunung yang terpasak pada tanah bumi ini cukuplah memancing kembali semangat hidupnya. Sekawanan burung-burung lain yang tampak gembira mengepakkan sayapnya adalah penarik cita-cita yang pernah tenggelam. Dan kesejukan udara yang tak ternilai harganya sebagai penawar semua kerinduan dan kebencian.
Inilah dia si burung kecil yang menyendiri. Semua ia dapatkan dalam sangkar emasnya. Hanya satu yang jauh dari tangannya, kebahagiaan dalam hati yang tenang. Alam, sahabat, dan cinta menjadi kesatuan yang amat dirindukan.

Komentar