Di awal kita bersua, manjaku hanya tertuju pada Bunda. Wajar, aku masih disebut sebagai anak ketiak. Itulah
kali pertamaku berpisah jauh darinya. Merantau ilmu di negeri orang yang sangat
berbeda karakternya denganku. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, bahkan
sebulan dan dua bulan, aku merengek. Meratapi nasib, seolah dibuang oleh
keluarga sendiri. Dramatis? Mungkin. Lebay? Benar juga.
Aku harus
beradaptasi dengan semua hal yang ada di sana. Udara, lingkungan, orang, gaya,
bahasa, sikap dan adab. Setiap hari aku dihantui rasa putus asa, setiap hari
pula aku dibanjiri air mata (lebay lagi). “Pengen pulang!!!!!.....”, hanya
kalimat itu yang selalu melayang di fikiran. Rela makan sehari sekali demi
menuruti nafsu manjaku.
Manja di awal
mungkin sudah lumrah. Tapi kalau manja di akhir…..
Ternyata
ucapan guru itu benar, tiga tahun itu tidaklah lama. Setahun pertama bermanja
ria. Setahun pertengahan mulai berfikir dewasa. Dan setahun terakhir kami berubah. Menjadi manusia-manusia yang pandai berbicara, bersikap dan mengambil
tindakan.
Tapi di ujung
kisah, aku seperti berada pada tahun pertama. Di detik-detik perpisahan, manjaku
bangkit kembali. Kali ini bukan pada Bunda, melainkan pada mereka yang
bersamaku selama tiga tahun terakhir. Mereka yang mengajariku tentang kemandirian.
Mereka pula yang memperkenalkanku dengan kehidupan. Dan mereka yang membantuku
melewati hidup penuh keikhlasan.
Sungguh, rasa
manja ini terus berkembang setiap hari. Ingin rasanya berkumpul di kelas setiap
waktu, ntah siang ntah malam. Ingin rasanya menahan langkah mereka yang akan
pulang atau sekedar pergi bermain ke tempat lain. Ingin pula rasanya mengikat
mereka tetap di dekatku.
Seolah aku
akan pergi jauh dari mereka, sangat jauh. Bahkan sempat terlintas di fikiran, aku bak hamba yang akan menemui ajalnya sesaat lagi. Atau justru sebaliknya.
Merekalah yang akan meninggalkanku seorang diri. Bagai seorang bungsu yang
akan ditinggal sendirian oleh kakak-kakaknya dalam sebuah gubuk lusuh di desa
yang sangat terpencil.
Kenangan bersama mereka seolah berwasiat padaku. “Setelah ini, kau harus bisa hidup mandiri. Kau
harus hidup dengan keoptimisan, semangat, pantang menyerah. Abaikan mereka yang
melecehkanmu. Ikuti mereka yang membimbingmu sampai pada kesuksesan. Dan berusahalah dengan iringan doa. Kami memang tidak
ada di sisimu, dan kami tidak lagi bersamamu. Tapi Tuhan akan selalu
menyertaimu. Sampai kita bertemu kembali di sana.”
Tuhan, jika
manja ini adalah tanda cintaku pada mereka, rasa sayangku pada mereka, biarlah kupendam dan kutahan. Tapi jika manja ini hanya sekedar pewarna lembaran hidup,
tolong hentikan. Sebelum semua berubah menjadi sebuah kemunafikan, sebelum semua terkuak hanya sebagai drama, dan sebelum semua menjadi bahan olokan semata.
Al-Qanathir El-Khairiyah.
Koto Baru, 14 September 2011…

Komentar
Posting Komentar