Satu di antara berjuta nikmat Tuhan adalah hujan. Tetesan-tetesan air yang turun dari langit mendung. Butir-butir kecintaan Tuhan pada hamba-Nya setelah terkumpul dalam satu awan hitam. Bukan karena awan tak mensyukurinya, namun ia hanya ingin berbagi nikmat Pencipta pada makhluk lain di bawahnya.
Hujan, sebuah nikmat Tuhan yang memekarkan rasa pada hati manusia. Dengan hujan, manusia merasa gembira penuh syukur. Ladang yang kering kembali subur. Pepohonan dan bunga-bunga yang layu menjadi tegak dan segar. Tanah yang retak kembali menyatu. Api yang membara akan padam dengan sendirinya. Udara yang tercemar dibersihkan olehnya. Serta hawa yang panas seketika berubah sejuk, sesejuk hati menikmatinya.
Namun tak jarang hujan membuat manusia terdiam. Menatapnya bukanlah suatu kebahagiaan, bagai memandang masa lalu yang dirindukan. Atau seperti melihat cinta dari kejauhan. Bahkan hujan telah mengingatkannya pada pengalaman pahit yang tak terucapkan. Air mata mengalir tak terbendungkan, seiring mengalir pula si air hujan dari atap rerumahan.
Tapi jangan risaukan itu. Coba buka matamu dan sambutlah hujan yang menyapamu. Setiap tetesnya turun bagaikan malaikat yang sedang menebarkan kebahagiaan di atas bumi. Coba buka telingamu, maka dengarkan baik-baik. Ada musik dan nyanyian khas yang hujan bawakan teruntukmu saat itu. Kau tak dapat mendengarnya dalam keramaian, kemarahan, dan kebencian. Lagu-lagunya hanya bisa didengar dalam kesunyian, kesendirian, dan ketenangan. Kemudian pasang hidungmu dan ciumlah aroma alam yang basah karena hujan. Mungkin aroma itu hanya bau tak sedap yang kau cium sekelibat saja. Maka ciumlah dengan tenang, rasakanlah keharuman dari udara penuh kesejukan. Terakhir, buka mata hatimu. Betapa besar nikmat yang kau dapat saat itu. Hujan turun sebagai berkah, bukannya musibah. Setiap doa akan diijabah. Lantas, apa lagi yang membuatmu resah? Maka bersyukurlah. Tuhan selalu menyertaimu, insya Allah.
Komentar
Posting Komentar